Senin, 09 Desember 2013

Daerah

Bayi Tertukar di RS Mattaher Jambi

Senin, 09 Desember 2013 | 07.30
bayi
SaktiNews.com - JAMBI- Kisah bayi yang tertukar ternyata tidak hanya terjadi di sinetron-sinetron. Pasangan suami istri, Firmansyah dan Reni Susilawati nyaris mengalaminya.

Ditemui usai membuat laporan ke pihak Rumah Sakit Umum (RSU) Raden Mattaher Porvinsi Jambi, Firmansyah masih tampak kesal. Ia menceritakan kronologi tertukarnya puteri keduanya dengan seorang bayi laki-laki.

"Kami biasa cek ke dokter praktek. Kehamilan istri saya memang bermasalah dan harus dioperasi. Rencanyanya tanggal 13 Desember ini. Tapi waktu tanggal 3 Desember lalu kontrol, dokternya bilang harus operasi hari itu juga. Akhirnya kita ke IGD RSU dan dioperasi jam setengah 12 malam," ungkapnya, Sabtu (7/12).

Operasi berjalan lancar dan perawat menyebutkan bayi berjenis kelamin perempuan. Namun bayi langsung dibawa keruangan bayi tanpa terlebih dahulu di iqomah oleh Firmansyah.

Tidak mau melewatkan mengiqomah bayinya, bapak dua anak ini bersama ibunya Firmawati mengikuti sang perawat ke ruang bayi untuk melaksanakan kewajiban tersebut.

"Setelah di iqomatin, karena bayinya sudah masuk keruangan ya saya rasa sudah aman. Jadi saya pergi lihat istri. Besoknya saya pergi mengurus Askes. Seorang petugas bilang saya harus bayar Rp 700 ribu untuk menebus bayi. Karena masih mengurus Askes saya menundanya. Tapi setelah mau saya bayar eh petugas itu bilang biaya tebusnya Rp 600ribu. Ya saya pikir sudahlah yang penting anak bisa didapat," terangnya.

Entah sebuah firasat atau bukan kala bayi diantarkan padanya Firmansyah heran melihat kepala bayi yang menurutnya lonjong. Menurut pengetahuannya bayi yang lahir melalui cesar kepala bayi tidak lonjong tapi bulat. ia pun merasa tidak ada kontak batin. Bahkan saat disusui istrinya pun sang anak terus menerus menolak.

"Waktu mau dibawa perawat saya bilang bilang gendong sendiri karena ini anak kedua, saya sudah biasa. Tapi dia menolak dan menyuruh saya menunggu diruangan. Saya merasa aneh dengan anak ini. Tapi ya sudahlah," katanya.

Semuanya terungkap saat tengah malam Firmansyah menunggui istrinya. Sang bayi yang terus menerus menangis diperiksanya untuk mengganti pampers. Tapi alangkah terkejutnya Firmansyah saat pampers dibuka dan melihat jenis kelamin anaknya berubah jadi laki-laki.

"Waktu itu jam 12 malam. Saya lagi merokok diluar, ditelepon istri anak menangis. Pas dibuka pampersnya ternyata cowok. Cepat-cepatlah saya melapor ke ruang bayi. Disitu cek cok, saya minta kejelasan. Mereka catat nama saya dan istri lalu tutup pintu. Lama didalam terus keluar bilang datanya sudah tidak ada lagi dan saya disuruh nanya ke bidan jaga," terangnya.

Tidak mau membuang waktu, Firmansyah pun langsung bertanya ke bidan jaga yang dimaksud. Namun disana, ia nyaris di oper lagi untuk mengetahui kejelasan bayinya. Akhirnya disana dia emosi dan berkata keras.

"Saya bilang yang salah kamu atau aku? Kenapa aku yang dioper kesana sini? Barulah mereka kalang kabut di ruang bayi. Akhirnya saya dikasih bayi cewek yang memang pakai gelang. Sudah dikasih sudahlah, saya telepon keluarga memberi kabar," ungkapnya.

Keesokan hari (5/12), ibunda Firmansyah, Firmawati mendatangi rumah sakit untuk meminta penjelasan. Mereka diberi alasan kejadian tersebut karena kesalahan memberi bayi saja. Perihal bayi laki-laki yang tidak memakai gelang, katanya memang seperti itu.

"Tapi pasien lain protes, katanya bayi laki-lakinya pakai gelang. Nah mereka pun beralasan mungkin stok gelangnya abis. Merekapun memberi jalan untuk tes darah," kata Firmansyah.

Dari hasil tes, golongan darah bayi B sama dengan ibunya B. Tapi hasil ini tidak membuat keluarga Firmansyah lega. Mereka menuntut tes DNA. Tapi kata pihak rumah sakit tes tersebut tidak ada di Jambi.

Akhirnya bayi perempuan tersebut dibawa pulang. Namun sebelum pulang, kepala perawat memanggil Firmansyah.

"Dia bilang namanya manusia tempat salah dan khilaf dan meminta maaf. Tapi dia yakini itu anak saya. Kami pastikan, katanya. Akhirnya saya bilang, ibu tahu dari mana? Sementara yang pertama salah, darimana bisa mastiin? Kami terus ngobrol dan tidak ada solusi," tutur Firmansyah.

Jumat malam(6/12) saat bekerja Firmansyah mengaku tidak tenang. Batinnya terus memikirkan masalah bayinya yang tertukar. Bosnya ditempat kerja memberi izin ia ke rumah sakit untuk menyelesaikan masalahnya itu.

Malam itu juga ia mengatakan pada pihak rumah sakit agar masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan dengan melakukan tes DNA. Namun hal itu tidak bisa dipenuhi karena kepala ruangannya tidak ada ditempat.

"Hari ini (kemarin) mereka beralasan kepala ruangannya sedang pelatihan," sebutnya.

Keanehan demi keanehan yang ia rasakan membuat Firmansyah ingin mengetahui lebih detail apa yang sebenarnya terjadi. Tidak hany menuntut tes DNA, ia menduga ada unsur sengaja dibalik kasus yang menimpanya itu.

"Saya mau di sumpah pocong. Waktu saya keingat bayi laki-laki itu mana ada perawat yang keceplosan bilang itu anak tukaran. Lalu mereka bersenggol-senggolan seakan memberi kode. Dihadapan mereka saya bilang kan kamu kode-kodean sudah-sudah. Jangan dijelasin, inilah mainan kamu didalam ni. Lalu saya pergi," katanya.

"Saya disini tidak minta duit tapi minta kejelasan, kepastian dengan tes DNA. Untung yang tertukar ini anak cowok, kalau anak cewek pastilah dak tau ternyata yang dibawa balek anak orang," tegasnya.

Firmansyah bersama keluargapun berencana akan segera melaporkan hal ini kepada Polda Jambi.

Dikonfirmasi soal ini, Solahuddin selaku Public Relation RSU Raden Mattaher Jambi mengatakan pihaknya akan segera mengadakan rapat dan mencari tahu kebenaran yang terjadi.

"Rumah sakit akan rapat untuk mencari tahu titik masalahnya dimana. Akan mengadakan investigasi internal di rumah sakit. Sekarang bari dikumpulkan nanti mereka akan melaporkan data pendukung senin rapat ulang lagi. Nanti kita putuskan permasalahan dan solusi apa yang sesuai yang bisa kita lakukan," katanya.

Lantas bagaimana dengan tuntutan tes DNA yang diminta keluarga Firmansyah?

"Direksi yang akan memutuskan. Memang ada tuntutan itu dari pihak keluarga. Kita akan sampaikan ke direksi. Kita akan bicarakan," sebutnya.

Direktur Pelayanan dan Keperawatan RSU Raden Mattaher Alfian Taher mengaku belum mendapat laporan.

"Saya sedang di Jakarta. Nanti hubungi lagi ya," katanya sembari menutup telepon
Komentar
 

Category 2

.